Postingan

SHUMMUN BUKMUN

SHUMMUN BUKMUN Emha Ainun Nadjib  Saya sangat percaya pada Allah dengan hidayahnya di Alquran. Tarafnya sampai (mohon maaf) istilah bahasa Indonesianya membabibuta. Tentulah penggunaan idiom ini sangat tidak sopan dan terasa sangat mengotori. Namun kalau saya pakai kata Total, Absolut, Sepenuhnya atau mungkin Harga Mati rasanya kurang mengandung emosi dan energi sebagaimana kita membabi buta. Akan tetapi sudahlah, babi juga ciptaan Allah. Ia salah satu makhluk yang toh kita bisa belajar darinya serta mempelajarinya. Masalahnya menjelang menulis ini saya merasa sangat terganggu oleh sejumlah firman Allah di al-quran. Saya berniat tiap sebelum sahur mempersembahkan tulisan kepada saudara-saudara saya, anak cucu, sahabat sahabat dan handai taulan. Namun memasuki hari ke-4 saya dicegat oleh ayat. Sebenarnya yang mengganggu adalah pikiran saya sendiri. Sebelum ini saya menulis "Indonesia itu kebal". Saya menyuguhinya minuman kasih sayang, tidak membuatnya bersyukur. Saya k...

SUARA-SUARA KELEDAI

Gambar
Pemimpin yang Tuhan  SUARA-SUARA KELEDAI Emha Ainun Nadjib Alih-alih berpuasa Ramadhan menuju harapan surga, rasanya saya sedang dihukum oleh Allah. selama hidup, saya hanya membaca 5 buku. lantas saya melakukan hal yang mustahil: mengetik ribuan tulisan, menerbitkan hampir 100 buku, menulis Daur hingga 309 + 124 tulisan hari ini di caknun.com ,  ditambah rutin "wedang uwuh", "Lubuk",  "Bongkah", ataupun tentatif "asepi" Khazanah, wong2an. belum yang lepas lepas darurat. Mustahil dalam arti orang menulis berharap untuk dibaca. "siapa berbuat sezarah kebaikan akan mendapatkan imbalannya, siapa melakukan sedebu kejahatan akan memperoleh balasannya", kata Allah. Dan dengan hanya pernah membaca 5 buku saya berharap orang membaca jutaan huruf yang pernah saya ketik? Hidayah Tuhan saja tidak diprimerkan, kok saya berharap manusia meng-iqra-i tulisan saya. Allah kasih "juklak juknis". Dan Sederhanakanlah kamu dalam...

Mencintai Makanan

Gambar
Mencintai Makanan Emha Ainun Nadjib Andaikan pekerjaan berpuasa itu disukai, disenangi, digemari, atau dicintai oleh manusia, sepertinya Tuhan tidak akan mewajibkannya berpuasa. Demikianlah yang bisa dijangkau oleh logika dan prinsip sebab-akibat. Tapi manusia sangat mencintai makanan. Manusia lebih suka makan daripada lapar, maka untuk makan tak perlu disuruh-suruh. Tetapi untuk mau sengaja lapar, manusia harus dipaksa. Demikian juga pada kegiatan apapun lainnya. Sebagaimana hewan berkawin-kawin kapan saja dengan sesamanya, manusia pun melakukan perilaku dan budaya yang sama kalau Tuhan tidak memaksanya untuk melakukan akad nikah terlebih dahulu sebelum kawin. Caknun.com

Asyiki Alquran, Maiyah Suburkan

Gambar
SEPULUH DARI SEPULUH  Maiyah adalah hadiah dari Allah, bukan karya kita. Semua kekurangan Maiyah berasal dariku. Kita bersyukur Allah menganugerahkan Cak Fuad dan Syekh Kamba, sebagai  Marja’  ilmu kita semua. Tetapi kami bertiga bukan Ulama, Mursyid atau Kiai, sebagaimana beliau-beliau di luar sana. Selama 24 tahun ini kita berkumpul dan hanya berjuang mencintai dan mendekat kepada Allah Muhammad kekasih-Nya, mengikhtiari manfaat hidup. Termasuk buat Indonesia. Aku Mbah kalian semua adalah manusia biasa, awam dalam hal ilmu keagamaan maupun ilmu modern. Tidak ada padaku ekspertasi bidang apapun. Aku tidak berada di jalur pembelajaran Ulama, Santri maupun para  modern scholars . Aku tidak punya sanad ilmu di wilayah  tadarrus, ta’lim, tafhim, ta’rif  maupun  ta`dib . Aku tidak merupakan bagian dari  nasab  yang perlu diperhatikan. Tidak ada yang anak cucuku bisa andalkan dan harapkan dariku, lebih dari yang sejauh ini Allah memperken...

BACA JUGA

Baca juga GUSTI ALLAH TIDAK NDESO Subjektivisme bawa Karaeng 2 NASIB GUS DUR Pisan Pisan Sambat rek CAHAYA AURAT MERAWAT RAHASIA MATI KETAWA GAYA GUSDUR SEDANG TUHAN PUN CEMBURU ANGGUKAN RITMIS KAKI PAK KIYAI BUKAN PIALA YANG DIGILIR TAPI PIALA YANG MENGGILIR Saudara Dalam Tuhan KALAU SESEMBAHAN MU ETOS KERJA ILAHIYAH CINTA SEGITIGA Ateis Tidak. Jibril Tidak Pensiun Kata CAKNUN tentang selamat Natal MENCINTAI TANPA PAMRIH JANGAN MEMPELAJARI AL-QURAN, BELAJAR LAH DARI ALQURAN ORANG MAIYAH

GUSTI ALLAH TIDAK NDESO

Gambar
Gusti Allah tidak ndeso. Emha Ainun Nadjib Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?” Cak Nun menjawab lantang, “Ya, nolong orang kecelakaan.” “Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya. “Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun. “Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak. Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.” Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau eng...

Subjektivisme bawa Karaeng 2

Gambar
Subjektivisme bawakaraeng (2) Emha Ainun Nadjib  Tak apa tiap hari makan tempe. Yang penting anggap saja makan daging. Tak apa tiap hari minum air sumur. Yang penting anggap saja minum susu atau setidaknya minum Aqua. Tak apa melarat, asal merasa kaya. Tak apa sedih, asal merasa bahagia. Subjektivisme macam ini terkadang fatal, terkadang tidak. Orang yang sudah matang hidupnya dan sudah menggengam inti hidup mampu berbahagia tanpa bahan atau fasilitas kebahagiaan. Sekali waktu kita menyangka alat kebahagiaan ialah, misalnya, disayangi istri, bisa punya rumah sendiri, bisa tukar tambah mobil baru, dapat SOB, kesebelasan favorit kita menang, atau apa saja. Nafkah wajib dicari, rumah kalau bisa punya sendiri, istri ya yang cantik dan kepribadian bersih, syukur-syukur ada rejeki nomplok yang lain. Tapi kalau terpaksanya tak mendapatkan hal-hal itu, orang bisa saja tetap bahagia. Dengan kata lain: kebahagiaan tetap saja bisa datang. Kebahagiaan itu makhluk Tuhan ya...